Evaluasi Diri

Dalam tulisan artikel kali ini, kangisa mencoba kembali pada kodratnya manusia yang membutukan suasana realigi dalam jiwanya terutama siraman dalam qalbu untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dengan kebutuhan hidup kita untuk kehidupan setelah di dunia ini yaitu kehidupan akhirat. Manusia tak pernah lepas dari masalah, maka dari itu untuk menyeimbangkan masalah yang dihadapi ialah kembali pada ruhiyahnya manusia yang tetap membutuhkan kasih sayang dari Allah SWT.

Ketahuilah hidup ini bagai gaung di pegunungan, apa yang kita bunyikan, suara itu pulalah yang akan kembali kepada kita, artinya segala yang terjadi pada kita adalah buah dari apa yang kita lakukan.

“ Barangsiapa yang mengerjakan kebaikkan sebesar (seberat) dzarrahpun, niscaya Dia akan lihat balasannya, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat balasannya.” ( QS. Al – Zalzalah 7,8 )

Allah SWT Maha peka terhadap apapun yang kita lakukan, dan dengan keadilan-Nya tidak akan ada yang meleset. Siapapun yang berbuat kebaikan sekecil apapun dan setersembunyi apapun, niscaya Allah Swt akan membalasnya berlipat ganda dengan aneka bentuk yang terbaik menurut-Nya.

Sebaliknya, kedzoliman sehalus apapun yang kita lakukan yang tampaknya seperti mendzolimi orang lain, padahal sesungguhnya ia sedang mendzolimi dirinya sendiri dan sedang mengundang bencana balasan dari Allah Swt yang pasti lebih getir dan gawat, Naudzubillah.

Andaikata ada batu yang menghantam kening kita, selain hati harus ridho kitapun harus merenung, mengapa Allah menimpakan batu itu tepat ke kening kita, padahal lapangan begitu luas dan kepalapun begitu kecil? Bisa jadi semua ini adalah peringatan bahwa kita sangat sering lalai bersujud, atau sujud kita lalai dari mengingat-Nya. Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia – sia, pasti segalanya ada hikmahnya.

Dompet hilang? mengapa dari satu bis, hanya kita yang ditakdirkan hilang dompet . Jangan sibuk menyalahkan pencopet, karena memang sudah jelas salah dan begitulah pekerjaannya meski hati kesal dan dongkol. Renungkanlah… boleh jadi kita ini termasuk si kikir, si pelit. Allah Maha Tahu jumlah zakat dan sedekah yang kita keluarkan. Apa sulitnya bagi Dia untuk mengambil apapun yang dititipkan kepada hamba – hamba-Nya karena harta, anak, istri maupun jabatan sebesar apapun semuanya adalah titipan dari Allah, untuk apa kita kikir, pelit dan sombong kalau pada hakikatnya kita ini miskin bahkan tak punya apapun didunia ini karena semua yang kita miliki adalah titipan dan kelak kita kembali pada-Nya, harta yang kita kumpulkan dengan susah payah tidak akan dibawa mati dan ini adalah sarana paling tepat untuk mengevaluasi diri.

Segala yang terjadi adalah dengan ijin Allah dan pasti ada hikmah tersendiri yang amat sangat bemanfaat, andaikata kita mau bersungguh – sungguh merenung dengan benar. Jangan terjebak hanya menyalahkan dan mendamprat orang lain karena tindakan emosional ini sedikit sekali memberi nilai tambah bagi kepribadian kita. Bahkan bila tidak tepat serta berlebihan hanya akan menimbulkan kebencian dan masalah baru.

Ketahuilah, dengan bersungguh – sungguh merubah diri, maka berarti pula kita merubah orang lain. Camkan, orang lain tidak hanya punya telinga, namun mereka memiliki mata, perasaan, dan pikiran yang dapat menilai siapa diri kita yang sebenarnya.

Kesimpulannya, jadikanlah setiap masalah menjadi sarana efektif untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri, karena hal itulah yang menjadi keuntungan bagi diri dan pengundang pertolongan Allah Swt. Wallahu’alambissawab…

Artikel Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.